Biografi Spesies Kita: Mengapa Sapiens Adalah Pendongeng Terhebat di Alam Semesta
Sudah cukup lama sejak saya pertama kali menutup lembar terakhir buku Sapiens karya Yuval Noah Harari. Namun, ada satu konsep dari Harari yang terus menghantui pikiran saya setiap kali saya melihat gedung pencakar langit, menggunakan aplikasi perbankan, atau melihat hiruk-pikuk politik di media sosial.
Perubahan yang drastis ini tidak terjadi karena volume otak kita tiba-tiba membesar dua kali lipat, melainkan karena kita menemukan “Fiksi”. Kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa membicarakan sesuatu yang tidak pernah dilihat, disentuh, atau dicium oleh indra fisik kita.
Sekitar 70.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita hanyalah hewan yang tidak signifikan. Di padang sabana Afrika, Homo sapiens bukanlah predator puncak; kita berada di tengah rantai makanan, sibuk mengumpulkan kacang-kacangan dan ketakutan pada singa. Namun hari ini, kita berdiri sebagai penguasa planet, memegang kunci kehancuran nuklir sekaligus penciptaan kecerdasan buatan.
Inilah kisah tentang bagaimana tatanan yang diimajinasikan itu berevolusi, selapis demi selapis.
Buku Sapiens
1. Menembus Batas Biologis: Gosip dan Angka Dunbar
Secara biologis, kerja sama kita seharusnya terbatas. Seekor simpanse hanya bisa bekerja sama jika ia mengenal simpanse lain secara pribadi. Tanpa kontak fisik atau “pencarian kutu” bersama, kepercayaan tidak akan terbangun. Inilah yang membatasi kelompok mereka maksimal pada angka 150 individu (Angka Dunbar).
Sapiens melakukan lompatan besar melalui Gosip. Kita tidak hanya membicarakan di mana letak pohon pisang; kita membicarakan siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang pembohong. Namun, gosip saja tidak cukup untuk membangun imperium. Kita butuh “Mitos”. Dengan menciptakan cerita tentang Dewa, Totem, atau Tanah Air, Sapiens mampu membuat 100.000 orang asing bekerja sama membangun piramida—sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh satu juta simpanse, karena mereka tidak punya “kitab suci” atau “konstitusi” yang sama.
2. Arsitektur Tak Kasat Mata: Negara dan Hak Asasi
Harari sering menekankan paradoks yang pahit: Alam tidak mengenal hak asasi. Secara biologis, tidak ada perbedaan antara hak seorang bangsawan dan rakyat jelata, atau antara warga negara Amerika dan Indonesia. Jika Anda membedah tubuh manusia, Anda akan menemukan jantung, paru-paru, dan neuron—tapi Anda tidak akan menemukan “Hak untuk Merdeka” di dalam heliks DNA kita.
Negara adalah tatanan imajiner yang paling rakus. Ia hanyalah garis-garis khayalan di atas peta yang kita pertahankan dengan nyawa. Kita rela mati demi “bendera”—selembar kain dengan pola warna tertentu—hanya karena kita percaya pada cerita kedaulatan yang menyertainya. Inilah kekuatan Sapiens: kita menciptakan penjara imajiner, lalu dengan sukarela tinggal di dalamnya.
3. “Hantu” yang Legal: Sihir Korporasi Modern
Salah satu pencapaian fiksi paling jenius adalah Perseroan Terbatas (PT). Mari ambil contoh Peugeot. Perusahaan ini bukan mobilnya, bukan pabriknya, dan bukan pula karyawannya. Jika besok terjadi bencana yang melenyapkan seluruh aset fisiknya, Peugeot tetap ada sebagai entitas legal di atas kertas.
Ini adalah bentuk sihir modern. Kita menciptakan “orang buatan” (entitas hukum) yang bisa menuntut, meminjam uang, dan memiliki aset. Melalui fiksi ini, kita bisa melakukan perdagangan global tanpa risiko kematian pribadi. Kita tidak lagi berdagang antarmanusia, melainkan antar-fiksi yang kita sebut korporasi.
4. Kepercayaan Inter-subjektif: Uang sebagai Agama Universal
Agama sering kali memecah belah, namun Uang adalah satu-satunya sistem kepercayaan yang menyatukan semua orang. Anda mungkin tidak percaya pada tuhan orang lain, tetapi Anda sangat percaya pada uangnya.
Uang tidak memiliki nilai intrinsik. Selembar uang kertas tidak bisa dimakan, dan angka di layar ponsel tidak bisa menghangatkan tubuh. Nilainya sepenuhnya bergantung pada kepercayaan inter-subjektif. Selama miliaran orang setuju bahwa kertas itu bernilai, maka ia akan tetap bernilai. Uang adalah fiksi paling toleran yang pernah diciptakan; ia tidak peduli pada ras, agama, atau orientasi seksual Anda, selama Anda memiliki “kepercayaan” yang sama terhadap nilai tukarnya.
5. Aliansi Mematikan: Sains, Kapitalisme, dan Imperium
Jika agama-agama kuno mengklaim telah memiliki semua jawaban, Revolusi Ilmiah dimulai dengan satu pengakuan revolusioner: “Kami tidak tahu”. Pengakuan akan ketidaktahuan ini memicu rasa haus akan penjelajahan.
Namun, sains tidak bergerak di ruang hampa. Ia didorong oleh Kapitalisme. Kita mulai berinvestasi pada masa depan karena kita percaya pada narasi “Pertumbuhan”. Kita meminjam uang hari ini (yang sebenarnya belum ada) karena kita percaya esok hari ekonomi akan lebih besar. Ini adalah kepercayaan pada “sesuatu yang belum terjadi”—sebuah fiksi masa depan yang memungkinkan kita membangun satelit, obat-obatan, dan senjata nuklir.
Kesimpulan: Penjara atau Sayap?
Keunikan Sapiens adalah kita hidup dalam Realitas Ganda. Di satu sisi ada realitas objektif (hujan, singa, penyakit), dan di sisi lain ada realitas inter-subjektif (uang, negara, hak asasi).
Luar biasanya, tatanan imajinasi ini bersifat fleksibel. Jika lebah memiliki sistem sosial yang kaku karena tertulis di DNA, manusia bisa mengubah sistem sosialnya dalam sekejap melalui revolusi—cukup dengan mengubah “Cerita” yang kita percayai. Kita bisa mengubah monarki menjadi demokrasi, atau kapitalisme menjadi sosialisme, hanya dengan mengganti narasi kolektifnya.
Namun, Harari menutup dengan sebuah pengingat yang dingin: Kita sekarang adalah “Dewa” yang memiliki kekuatan untuk mencipta dan menghancurkan, tetapi kita adalah dewa yang tidak tahu apa yang kita inginkan. Kita masih terperangkap dalam fiksi-fiksi yang terkadang justru menyiksa diri kita sendiri (seperti mengejar angka di rekening bank hingga mengabaikan kebahagiaan biologis).
Celakanya, seiring berjalannya waktu, realitas imajiner ini menjadi jauh lebih kuat. Saat ini, jika sebuah bank (fiksi) runtuh, jutaan orang bisa menderita kelaparan, meskipun pohon di hutan (objektif) masih berbuah lebat.
Membaca Sapiens bukan sekadar belajar sejarah; ini adalah tentang menyadari bahwa dunia yang kita tinggali saat ini adalah kumpulan cerita yang kita sepakati bersama.
Homo Sapiens
Komentar & Diskusi